3 Tahap Penting dalam Alur Pembuatan Prototype
Mon, 19 Jan 2026
Follow the stories of academics and their research expeditions
Perkembangan teknologi dan digitalisasi yang pesat telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan berinteraksi. Produk dan layanan baru bermunculan setiap hari, namun tidak semuanya berhasil menjawab kebutuhan pengguna. Banyak inovasi gagal bukan karena kurang canggih, melainkan karena tidak memahami manusia sebagai pengguna utama dari solusi tersebut.
Dalam konteks inilah Design Thinking menjadi semakin relevan. Design Thinking hadir sebagai pendekatan yang menempatkan manusia di pusat proses inovasi. Pendekatan ini membantu individu dan organisasi memahami masalah secara lebih mendalam, menggali kebutuhan tersembunyi pengguna, serta menciptakan solusi yang tidak hanya kreatif, tetapi juga fungsional dan bernilai.
Design Thinking bukan sekadar metode untuk desainer, melainkan sebuah mindset dan proses berpikir yang dapat diterapkan oleh siapa saja—mulai dari pelaku bisnis, developer, pendidik, hingga pembuat kebijakan publik.
Design Thinking adalah pendekatan pemecahan masalah yang bersifat human-centered, yaitu berfokus pada pemahaman kebutuhan, pengalaman, emosi, dan perilaku pengguna untuk menghasilkan solusi yang inovatif dan relevan.
Pendekatan ini menggabungkan:
Empati terhadap pengguna
Cara berpikir kreatif dan eksploratif
Eksperimen dan iterasi berulang
Pertimbangan kelayakan teknologi dan bisnis
Design Thinking menekankan bahwa solusi terbaik lahir dari pemahaman masalah yang tepat, bukan dari asumsi. Oleh karena itu, prosesnya bersifat iteratif, di mana tim dapat kembali ke tahap sebelumnya untuk memperbaiki dan menyempurnakan solusi berdasarkan feedback pengguna.
Lebih dari sekadar proses, Design Thinking adalah cara berpikir. Beberapa mindset utama dalam Design Thinking antara lain:
Human-Centered
Fokus utama adalah manusia, bukan teknologi atau bisnis semata.
Empathy First
Memahami pengguna secara mendalam sebelum mencari solusi.
Bias Toward Action
Lebih baik mencoba dan gagal lebih cepat daripada terlalu lama menganalisis tanpa aksi.
Iterative Process
Solusi terus diperbaiki melalui eksperimen dan feedback.
Collaboration
Melibatkan berbagai latar belakang disiplin untuk memperkaya perspektif.
Mindset ini membantu tim menjadi lebih terbuka, adaptif, dan inovatif.
Di era digital, kebutuhan pengguna berubah dengan sangat cepat. Produk yang relevan hari ini bisa menjadi usang dalam hitungan bulan. Design Thinking membantu organisasi untuk:
Mengurangi risiko kegagalan produk
Memahami pain point pengguna secara nyata
Menghasilkan solusi yang benar-benar digunakan
Menjaga relevansi produk dan layanan
Sebagai contoh, dalam pengembangan aplikasi digital, Design Thinking memungkinkan tim untuk menguji ide sejak awal melalui prototype, sehingga kesalahan dapat ditemukan sebelum produk diluncurkan secara penuh ke pasar.
Design Thinking terdiri dari lima tahapan utama yang saling terhubung dan dapat diulang:
Empathy
Define
Ideate
Prototype
Test
Proses ini tidak linear, melainkan fleksibel dan iteratif.
Tahap Empathy bertujuan untuk memahami pengguna secara mendalam—bukan hanya apa yang mereka katakan, tetapi juga apa yang mereka pikirkan, rasakan, dan lakukan.
Pada tahap ini, tim harus menahan asumsi pribadi dan fokus pada pengalaman nyata pengguna di dunia nyata.
Wawancara mendalam (in-depth interview)
Observasi langsung
Kunjungan ke lingkungan pengguna
Roleplay dan shadowing
Empathy Map digunakan untuk merangkum hasil empati dalam empat aspek utama:
“Materinya bagus, tapi kadang susah dipahami.”
“Aku ingin belajar cepat tanpa harus membaca terlalu banyak teori.”
“Kalau ada contoh nyata, aku lebih mudah mengerti.”
Apakah platform ini benar-benar membantu meningkatkan skill?
Takut membuang waktu jika materinya terlalu dasar.
Apakah sertifikatnya berguna untuk karier?
Antusias saat memulai hal baru.
Frustrasi ketika penjelasan terlalu teknis.
Puas dan percaya diri saat berhasil menyelesaikan materi.
Membandingkan beberapa platform belajar online.
Menonton video sambil praktik langsung.
Membaca review dan testimoni pengguna lain.
Empathy Map membantu tim melihat pengguna sebagai manusia utuh, bukan sekadar data.
Tahap Define bertujuan menyusun hasil empati menjadi rumusan masalah yang jelas dan fokus. Masalah yang baik harus:
Berpusat pada pengguna
Layak untuk dipecahkan (worth to solve)
Dapat ditindaklanjuti (actionable)
Format umum problem statement:
User membutuhkan kebutuhan karena insight.
Contoh:
Mahasiswa yang belajar online membutuhkan materi berbasis praktik karena mereka cepat kehilangan fokus saat harus membaca teori panjang.
Problem statement ini menjadi fondasi seluruh proses ideasi.
Tahap Ideate adalah proses menghasilkan sebanyak mungkin ide solusi. Fokus utama bukan kualitas, melainkan kuantitas dan keberagaman ide.
Tidak ada ide yang salah
Jangan menghakimi terlalu cepat
Visualisasikan ide
Dorong ide yang ekstrem dan kreatif
Brainstorming
Mind Mapping
Crazy 8s
How Might We (HMW)
Contoh HMW:
How might we membantu user belajar lebih cepat tanpa merasa kewalahan?
Setelah ide terkumpul, dilakukan seleksi berdasarkan:
Dampak terhadap user
Effort vs impact
Kesesuaian dengan kebutuhan pengguna
Prototype adalah representasi nyata dari ide solusi. Tujuannya bukan kesempurnaan, melainkan pembelajaran cepat.
Cepat dan sederhana
Murah dan mudah diubah
Fokus pada fungsi utama
Storyboard
Menggambarkan masalah dan solusi dalam bentuk cerita.
Wireframe
Rancangan struktur awal produk.
Prototype
Produk yang dapat disentuh, dicoba, dan diuji oleh pengguna.
Prototype membantu tim melihat apakah ide benar-benar bekerja di dunia nyata.
Tahap Test dilakukan dengan menguji prototype kepada pengguna sesungguhnya. Fokus utama adalah mengamati perilaku, bukan sekadar mendengar opini.
Usability Testing
A/B Testing
Alpha dan Beta Testing
Apakah user bingung?
Di mana user berhenti atau ragu?
Apakah solusi benar-benar membantu?
Feedback dari tahap Test menjadi bahan iterasi untuk memperbaiki solusi.
Beberapa manfaat utama Design Thinking:
Solusi lebih relevan dengan kebutuhan pengguna
Mengurangi risiko kegagalan produk
Meningkatkan kolaborasi tim
Menghemat biaya pengembangan
Mendorong inovasi berkelanjutan
Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
Langsung fokus ke solusi tanpa empati
Mengandalkan asumsi, bukan riset
Terlalu cepat puas dengan satu ide
Prototype dibuat terlalu sempurna
Testing hanya ke internal tim
Menghindari kesalahan ini akan meningkatkan kualitas solusi.
Design Thinking banyak diterapkan dalam:
Pengembangan aplikasi digital
Desain layanan publik
Pendidikan dan kurikulum
Pengembangan produk startup
Perbaikan pengalaman pelanggan (customer experience)
Pendekatan ini membantu memastikan solusi benar-benar menjawab masalah nyata.
Design Thinking adalah pendekatan sekaligus mindset yang membantu kita memahami masalah secara lebih manusiawi dan menyelesaikannya secara kreatif. Dengan menempatkan empati sebagai fondasi, berani bereksperimen, dan terbuka terhadap feedback, Design Thinking memungkinkan terciptanya solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga bermakna dan berdampak.
Di tengah dunia yang terus berubah, kemampuan untuk memahami manusia dan beradaptasi melalui Design Thinking menjadi keunggulan penting bagi individu maupun organisasi. Bukan tentang siapa yang paling cepat menciptakan produk, melainkan siapa yang paling memahami penggunanya.
Leave a comment