3 Tahap Penting dalam Alur Pembuatan Prototype
Mon, 19 Jan 2026
Follow the stories of academics and their research expeditions
Pemahaman awal tentang Design Thinking dapat ditelursuri dari era 1950-1960an ketika para peneliti mulai mengkaji design reasoing dan design methodology. Pada masa itu, konsep-konsep tersebut banyak dikaitkan dengan bidang arsitektur dan rekayasa.
Pada era 1990-an, IDEO, sebuah perusahaan desain dan inovasi global, berperan besar dalam membawa Design Thinking ke arus utama. IDEO memperkenalkan terminologi serta berbagai tools yang mudah dipahami dan diterapkan oleh berbagai kalangan.
Pada periode ini, Richard Buchanan, Kepala Desain di Carnegie Mellon University, turut membahas asal-usul Design Thinking dan bagaimana ilmu pengetahuan berkembang menjadi berbagai bidang spesialisasi. Design Thinking dipandang sebagai pendekatan yang mengintegrasikan beragam disiplin ilmu untuk menyelesaikan permasalahan kompleks secara holistik, termasuk tantangan berskala global.
Memasuki tahun 2000-an, David Kelley mendirikan Hasso Plattner Institute of Design (d.school) di Stanford University. Institusi ini menjadi pusat pengembangan, pengajaran, dan penerapan Design Thinking secara sistematis.
Gerakan Design Thinking berkembang pesat, dipelopori oleh IDEO dan berbagai sekolah desain yang kemudian diikuti oleh universitas, sekolah bisnis, serta perusahaan di seluruh dunia. Dalam proses adopsinya, metodologi ini sering kali disesuaikan dengan konteks organisasi, kebutuhan industri, dan nilai merek masing-masing.
Revolusi Industri dan Perang Dunia II telah memperluas pemahaman manusia mengenai kemungkinan teknologi. Perubahan sosial yang besar pada masa tersebut mendorong para insinyur, arsitek, desainer industri, dan ilmuwan kognitif untuk lebih fokus pada penelitian pemecahan masalah yang kompleks dan multidimensional.
Sejak era 1950–1960-an, Design Thinking muncul dan beradaptasi dengan mengintegrasikan kebutuhan strategis, teknologi, dan manusia. Pendekatan ini terus berkembang secara bertahap selama lebih dari lima dekade hingga akhirnya menjadi metodologi inovasi yang dominan di era modern.
Hingga saat ini, Design Thinking terus berevolusi dan diperkaya oleh para pionir serta praktisi di berbagai bidang yang berkontribusi dalam penelitian dan pengembangannya, menjadikannya pendekatan yang relevan dalam menghadapi tantangan masa kini dan masa depan.
Human-Centered Design (HCD) adalah pendekatan kreatif dalam pemecahan masalah yang berfokus pada manusia sebagai pusat proses desain. Pendekatan ini dimulai dengan memahami siapa pengguna, apa kebutuhan mereka, masalah yang mereka hadapi, serta emosi yang mereka rasakan.
Dalam HCD, empati menjadi fondasi utama. Desainer melakukan observasi, wawancara, dan eksplorasi pengalaman pengguna untuk memperoleh pemahaman yang mendalam. Proses ini dilanjutkan dengan menghasilkan ide, membuat prototipe, serta menguji solusi bersama pengguna. Tujuan akhirnya adalah menciptakan solusi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan konteks pengguna.
Secara sederhana, Human-Centered Design menjawab pertanyaan: “Apa yang benar-benar dibutuhkan oleh pengguna?”
Dalam proses menciptakan sebuah produk, layanan, atau solusi, sering kali kegagalan bukan disebabkan oleh kurangnya teknologi atau ide, melainkan karena solusi tersebut tidak benar-benar menjawab kebutuhan pengguna. Di sinilah empati memegang peranan penting dalam Design Thinking. Empati bukan sekadar memahami pengguna secara permukaan, tetapi berusaha melihat masalah dari sudut pandang mereka secara mendalam.
Design Thinking merupakan pendekatan pemecahan masalah yang berpusat pada manusia (human-centered). Tahap pertama dalam Design Thinking adalah Empathize, yang menekankan pentingnya memahami pengguna sebelum mendefinisikan masalah dan merancang solusi.
Empati membantu desainer dan tim untuk:
Memahami pengalaman nyata pengguna
Menggali kebutuhan tersembunyi yang tidak selalu diungkapkan
Menyadari emosi, frustrasi, dan harapan pengguna
Tanpa empati, proses desain berisiko besar didasarkan pada asumsi pribadi, bukan pada realitas yang dialami pengguna.
Salah satu tantangan terbesar dalam proses desain adalah kecenderungan desainer untuk berasumsi bahwa pengguna berpikir dan bertindak seperti dirinya. Empati membantu mengurangi bias ini dengan mendorong desainer untuk mendengarkan, mengamati, dan belajar langsung dari pengguna.
Melalui wawancara, observasi, dan tools seperti Empathy Maps dan User Persona, tim desain dapat memperoleh pemahaman yang lebih objektif dan akurat tentang siapa pengguna sebenarnya dan apa yang mereka butuhkan.
Tanpa empati, tim desain mungkin berasumsi bahwa pengguna membutuhkan lebih banyak fitur pembelajaran. Namun setelah melakukan wawancara dan observasi, ditemukan bahwa banyak pengguna merasa frustrasi karena materi disampaikan terlalu cepat.
Melalui empati:
Says: “Videonya terlalu cepat.”
Thinks: Takut tertinggal materi.
Does: Mengulang video berkali-kali.
Feels: Cemas dan lelah.
Solusi yang dihasilkan bukan menambah konten, tetapi menyediakan kontrol kecepatan video, ringkasan materi, dan penanda progres belajar.
Empati merupakan elemen fundamental dalam Design Thinking karena menjadi dasar dalam memahami pengguna dan masalah yang mereka hadapi. Dengan empati, proses desain tidak lagi berpusat pada asumsi, melainkan pada pengalaman nyata manusia.
Singkatnya, tanpa empati, Design Thinking kehilangan esensinya. Empati membantu memastikan bahwa solusi yang dirancang tidak hanya dapat dibuat dan dijalankan, tetapi juga benar-benar bermakna dan berdampak bagi penggunanya.
Leave a comment